Kedung Darma Romansha
Musim Semi di Bulan Juli 2
Lelah sudah aku.
Malam menyeret-nyeret tubuhku
Gigil angin menjadi penyakit harian di kepalaku
Yang selalau menetaskan ingatan
Dan bayangan angin Juli yang menggugurkan
Daun-daun di halaman itu.
Kemudian aku bergegas ke kamar
Saat senja mulai acuh di mataku.
Aku berkaca:
Wajah inikah yang pernah kukenal?
Kembali kubaca waktu di jam tanganku,
Kupikir aku tak salah melangkah
Tapi aku selalu merasa diseret-seret masa lalu.
Apa gerangan yang membuatku sedemikian sibuk
Menghitung wajahmu di almanakku.
Sudah berulang kali kukunci di dalam.
Pesan singkat yang kuterima darimu
Terkadang membuatku tak wajar
Bagaimana tidak,
Setiap aku bercermin
Yang muncul selalu wajahmu,
Memandangku-
Dan kupandang juga wajahmu
Habis sudah seluruh aku.
Sanggar Suto, 2007
Musim Semi di Bulan Juli 1
Di antara kita tak ada yang berkata-kata
Sepi jadi duri
Lengang dan hampa
Wajah kita jadi kaca
Berpantulan di kolam
Ruhku dan ruhmu berkecipak dan berciuman
Malam bercermin di bulan
Memukul dentum dalam diam.
Gaduh meruang di hati,
Sendiri
Jarak meranggaskan angka almanakku
Rindu bagai debu di jendela
Dipatuki angin senja.
Di antara kita tak ada yang berkata-kata
Ruhku dan ruhmu berkelintaran di cakrawala
Menjelajahi peta-peta puisi
Yang tergadai dalam cemburu waktu
Jadi hantu di kotamu dan kotaku.
Jakarta-Jogja 2007
Intermeso
Buat Laura
Percakapan kita telah menerjemahkan waktu
Hari tergelincir di mata kita masing-masing
Bulan bergeser ke barat
Angin Juli menggumpal di paru-paru
Dan kita hanya duduk berpura tak tahu
Bahwa malam menguapkan embun di dada-mu
Lalu tertutuplah halaman senja sore itu
Hati koyak oleh pecahan-pecahan rindu
Di mana kita yang berkaca-kaca
Lalu kita sama-sama diam
Menikmati sisa hari
Yang sebentar lagi dipotong jarak
Kesepian kita yang meracau sendiri.
Kadang kita berdiam diri
Menikmati nyeri sendiri-sendiri.
Begitu sibuk kita merancang hari depan
Sedang hari ini habis kita dicincang waktu yang kelam.
Kubaca juga aku:
Hidup memang seperti bermain layang-layang
Tak dapat kita baca cuaca
Yang mungkin akan menyesatkan kita
Ke ranting-ranting tanpa nama.
Maka pergilah saudaraku
Untuk meloloskan pikiranmu
Dari cekalan bayang-bayang di hatimu
Habiskan botol-botol itu
dan pecahkan
Ikat kencang tali sepatu
Dan melanconglah ke mana kau mau.
Jogja 2007
Barangkali Rindu
Barangkali rindu adalah sesuatu
Yang kita sebut masa lalu.
Seperti kita yang selalu curiga
Pada sepasang mata
Yang menyelidik dari jendela masa silam
Dan sama-sama kita terperangkap di dalam kamar
Dengan secangkir teh hambar.
Tiba-tiba dingin menggigilkan ingatan
Ketika musim menanggalkan bau hangus matahari.
Udara seperti mengirim kabar kematian
Dan suara kendaraan yang tiba-tiba menjauh di telinga.
Sanggar Suto, 2007
Menyeberangi Bukit-bukit Puisi di Bawah Gerimis
Menyeberangi bukit-bukit tua
Di bawah gerimis
Adalah mengenang kesepian demi kesepian
Yang belum kita bicarakan satu sama lain
Belum pula kita bungkus dengan
Sekepal nasi kucing atau seteguk teh anget,
Mungkin kopi yang hampir dingin.
Kita sama-sama bingung
Sementara hari mulai pucat
Mendung menggantung, angin mendesing
Tiba-tiba hujan menyerbu bagai ribuan peluru
Yang mengenai mantel perjalananku.
Di tengah perjalanan
Aku bagai dikepung ribuan pertanyaan
Tentang kata-kata yang menjelma mantra
Kupu-kupu yang menjelma rajawali
Juga langit yang tiba-tiba runtuh ke mata kita.
Menyeberangi bukit-bukit tua
Di bawah gerimis
Adalah menyeberangi bukit-bukit puisi
Seperti katamu,
Menyeberangi gerimis
Seperti sinyal-sinyal putus
Di dalam dada kita yang hampir mampus.
Tapi penamu terus saja ceriwis
Menyeberangi kesepian demi kesepian.
Sanggar Suto, 2007
Pesan Kakek Untuk Cucunya
Tubuh adalah seumpama kulit gabah
Yang menutupi isi di dalamnya
Jika kau ingin mengetahui kandungannya
Kau harus mengupas kulitnya.
Semisal kau cucuku,
Kau harus telanjang untuk mengetahui isi tubuhmu
Entah itu baik atau buruknya.
Cucuku, kulit atau isinya
Sudah tentu sama-sama ada manfaatnya.
Tapi tentu saja mempunyai kadar yang berbeda-beda.
Kau harus mengenal itu cucuku
Agar kau mengenal kemampuan dalam dirimu.
Cucuku, kulit tak selamanya mampu menahan
Puluhan musim yang mematok-matok paru-paru dan jantungmu.
Lambat laun tubuhmu tak akan mampu menjagal jarum jam
Yang akan menceraikan ruh dari tubuhmu.
Kau harus ingat itu cucuku.
Cucuku, tubuh hanyalah alat,
Yang menggerakkan adalah ruh.
Ruh akan abadi, sedang tubuh akan hancur
Kelak, ruh-lah yang akan mempertanggungjawabkan
Segala perbuatan semasa hidupmu.
Cecuku, hidup di dunia ini seperti mimpi
Jangan terkejut jika sekali waktu
Kau dibangunkan oleh maut.
Sanggar Suto, 30 Mei 2007
Aku Menyerumu Darma Ayu
Akan tetapi kelak nanti Allah melimpahkan
RakhmatNya yang berlimpah
Darma Ayu kembali makmur,
Tak ada suatu hambatan,
Tandanya,
Jika ada ular menyeberangi Kali Cimanuk
Semur kejayaan mengalir deras,
Lampu menyala tanpa minyak,
Semua kembali hidup makmur,
Manunggal dengan prajurit,
Membantu penguasa,
Hidup aman dan tentram,
Semua kembali makmur,
Seluruh negara hidup makmur.
Malam mendesak pelan
Jarum jam memenggal-menggal sepi dalam dada
Di luar, angin merapat pada pohonan
Dan rumput yang berembun
Terasa hari seperti menghirup racun
Sementara malam menawarkan jejak pendapat
Tentang kota yang dibungkam masa depannya.
Pikiranku mengembara,
Menapaki kampung dan sawah-sawah,
Dan kulihat saudara-saudaraku berlari dalam lumpur,
Melewati petak-petak sawah
Seperti selembaran catatan sekolah yang lusuh
Yang dilindas mesin-mesin waktu.
Aku menyerumu, Wiralodra
Di dalam sunyi yang pengap ini
Sukmaku mengembara di jalan-jalan
Mencari-cari Nyai Endang Darma Ayu
Dan pada setiap riak Cimanuk aku panggil namamu.
Namun, di tengah jalan kembaraku
Aku disekap segerombolan perampok
Tak lain adalah prajuritmu sendiri.
Aku coba menghindari nasib,
Kembali memburu wangi Nyai Endang Darma Ayu
Berbekal luka golok di dadaku
Yang semakin malam racunnya menjalari tidurku.
Wiralodra, setelah sampai di sebuah desa
Aku mencium bau minyak dari nafas mereka
Kemudian matahari membakar ingatan dan pikiran mereka.
Mereka disekap keadaan
Kuping mereka disumpal kapas
Mulut mereka disumbat bangkai.
Hidup macam apa ini, Wirolodra?
Hidup di tengah-tengah omong kosong
Sungai Cimanuk sudah lama kering
Berganti keringat yang diperas dari kebodohan mereka
Maka, sejak saat itu tak ada ular
Yang menyeberangi sungai Cimanuk
Orang-orang saling curiga
Perempuan lupa rumahnya
Suami lupa istrinya
Anak-anak lupa orangtuanya
Orang tua lupa anaknya
Dan pemimpin lupa rakyatnya.
Wiralodra, aku menyerumu datang
Ke tanahmu yang hampir hilang.
Akan kukawin sukma Nyai Endang Darma Ayu
Kupinang setiap jerit kesakitan mereka
Agar mereka dibangunkan dari tidur panjang
Dan diangkat derajat mereka.
Sanggar Suto, 2007
Warna Senja di Pipimu
Warna senja di pipimu
Mungkin sebentar lagi akan hilang
Dari pandanganku.
Karena barangkali mengenalmu
Seperti mimpi semalam
Beruntung aku dibangunkan jam weker
Beruntung air liurku tak sampai jatuh ke sprei.
Aku sadar, warna merah di mataku
Seperti warna senja di pipimu.
Aku sadar, kesalahan terbesar setelah rindu
Adalah mencintaimu.
Sanggar Suto, 2007
Hijab Khafi
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Kau pandang gugur daun yang direbahkan angin. Dengan pelan-pelan berucap pada bumi. Kemudian cuaca mengantarkan rencana musim berikutnya. Dan matahari pun segera berkemas mengawini bulan. Sementara kita sibuk mengemasi isyarat. Bumi masih sama berucap lewat tumbuhan: tempat kita mengunyah dan menelannya kemudian membuangnya kembali ke tanah.
Pada debur gelombang yang mirip dengkur pengantin usai malam pertama, kita pun pasang pada suasana. Ah, kitakah itu yang sibuk mengkhianati kata-kata atau kata-kata cara berbohong yang sempurna?
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Lalu kita sibuk membenarkan alarm. Membenahi malam yang sobek oleh hujan. Di sini kita pernah bersaksi tentang luka tentang kata-kata yang cerewet di genting rumah. kemudian puisi setengah masak kita kunyah seperti kau batalkan puasamu pada sepotong hari. Dan segenap ludah isyarat yang kita hisap kembali.
Kau bicarakan maut. Sebagaimana kebijakan dan kebajikan yang kau teriak-teriakkan. Sebagaimana kau alamatkan kuburmu pada sebilah sajak yang akan membunuhmu.
Kitalah lelucon kata-kata. Puisi yang tak pernah kenal muasalnya. Berputar dan terus berputar seperti bumi dan galaksi. Seperti saat orang terdahulu memberitakannya. Nyatanya, telinga, mata, hidung, mulut kita masih sama. Nyatanya sepeti kenyataannya.
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Mata kita yang palsu menerjemahkan hidup. Sebab hati telah ingkar dari rahimnya. Sebelum tangis pertama meledak di telinga ibu mereka.
Kitakah yang sibuk mengartikan isyarat? Kata dan makna yang kita garitkan di dada telah hilang. Sebagaimana tanah yang telah melahirkan kita lewat lorong para ibu. Seperti kata-katanya yang dibahasakan tumbuhan.
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Apakah yang sebenarnya membuat ke-ber-ada-an? Masih adakah ke-ber-ada-an setelah kita tiada? Kitalah saksi pertama dari kehidupan. Kitalah saksi dari keberadaan; yang tumbuh lalu menguncup, setelah kuncup lalu mekar, setelah mekar lalu gugur, setelah gugur dan menguncup lagi, mekar lagi, gugur lagi, dan seperti hari-hari yang sebenarnya membuat kita terpencil dari kenyataan.
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Kemanakah hilangnya hari kemarin? Ketika pertama matahari memecah jendela matamu yang masih lekat dengan sisa-sisa mimpi semalam – kemanakah ruh kita mengembara? Ketika kita pun mengabur pada batas ruang dan waktu.
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Isyarat apa yang kau siratkan sedang kau sendiri tak kenal isyarat yang diberitakan jantung: menghiruip dan mengeluarkannya lagi. Berputar seperti bumi dan galaksi. Seperti kau putar tasbihmu.
Kau rasakan udara keluar-masuk dari tubuhmu. Meninggalkan jejak kembaramu. Kelak kau merasakannya, saat tulangmu mulai bungkuk karena banyak menampung kisah yang basah oleh hujan kemarin dengan segenap kepulangan cahaya ke barat. Dan mimpimu yang mulai pasang, ditarik ombak ke tengah laut yang fana.
Kesendirianmu di atas perahu puisi, ditemani cahaya alit bulan yang tertutup awan, melengkapkan sunyi. Kau berharap ada perahu yang menyambangi gelombang kata-katamu. Tapi semua mengapung sempurna. Pada saat seperti itu, kau ingin tambatkan perahumu ke daratan. Pada saat seperti itu semua orang sibuk dengan layang-layang di bibir pantai.
Bacalah atas nama Tuhanmu
Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu
Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.
Pernahkah kau menyakini suatu kebenaran yang nyatanya salah? Mungkinkah mata mengajarkan kebohongan? Hati yang kau garitkan dalam sajakmu dari mata yang merekam kepalsuan lain pada keterbatasan jarak yang mengecil di pupil mata kita. Lalu apa yang menguak segala kebohongan ini? Maka kau baca malam dan siang pada tebaran cahaya dan kumpulan gelap adalah kita bermukim di dalamnya. Menyerupai batu yang berlumut dirayapi hujan dan udara. Dan cuaca yang mangkir dari hati kita.
Sanggar Suto, 5 Februari 2007
Telaga Menjer
(sebuah catatan)
buat Mahwi Air Tawar, Muda Wijaya, dan Al-ghiffari
bau pinus merendah
mengantarkan rakit ke kaki bukit dewa-dewa
di sini, aku memandangmu jauh
dipotong jarak kesepianku yang dingin.
Gigil batu-batu, tempias air terjun
Memercik serupa debu-debu air
Yang berkilatan di rambut mimpiku.
Dan alangkah dungu kita
Menanti alamat kata
Yang dikabarkan air rumputan
Di kaki kita yang lekat akan kesilaman.
Kupu-kupu putih meninggi
Dikibaskan sayap angin
Kemudian merendah lagi
Menyerupai jam jantung kita
Mengertap sepanjang tanah-tanah merah
Tempat ketika kita setia
Membaca sehimpunan stanza
Yang bertebaran di telaga
Tempat mengalirkan bau tubuh kita
Yang kelak akan kita baca
Juga rindu yang terpencil dari kata-kata.
Dieng, 2007