Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

TUGU JOGJA (Mediasi Puisi Jogja)

Blog EntryJul 6, '08 6:49 PM
for everyone

Kedung Darma Romansha

 

Musim Semi di Bulan Juli 2

 

Lelah sudah aku.

Malam menyeret-nyeret tubuhku

Gigil angin menjadi penyakit harian di kepalaku

Yang selalau menetaskan ingatan

Dan bayangan angin Juli yang menggugurkan

Daun-daun di halaman itu.

Kemudian aku bergegas ke kamar

Saat senja mulai acuh di mataku.

Aku berkaca:

Wajah inikah yang pernah kukenal?

Kembali kubaca waktu di jam tanganku,

Kupikir aku tak salah melangkah

Tapi aku selalu merasa diseret-seret masa lalu.

 

Apa gerangan yang membuatku sedemikian sibuk

Menghitung wajahmu di almanakku.

Sudah berulang kali kukunci di dalam.

Pesan singkat yang kuterima darimu

Terkadang membuatku tak wajar

Bagaimana tidak,

Setiap aku bercermin

Yang muncul selalu wajahmu,

Memandangku-

Dan kupandang juga wajahmu

Habis sudah seluruh aku.

Sanggar Suto, 2007

 

Musim Semi di Bulan Juli 1

 

Di antara kita tak ada yang berkata-kata

Sepi jadi duri

Lengang dan hampa

Wajah kita jadi kaca

Berpantulan di kolam

Ruhku dan ruhmu berkecipak dan berciuman

Malam bercermin di bulan

Memukul dentum dalam diam.

 

Gaduh meruang di hati,

                                  Sendiri

Jarak meranggaskan angka almanakku

Rindu bagai debu di jendela

Dipatuki angin senja.

 

Di antara kita tak ada yang berkata-kata

Ruhku dan ruhmu berkelintaran di cakrawala

Menjelajahi peta-peta puisi

Yang tergadai dalam cemburu waktu

Jadi hantu di kotamu dan kotaku.

Jakarta-Jogja 2007

 

Intermeso

Buat Laura

 

Percakapan kita telah menerjemahkan waktu

Hari tergelincir di mata kita masing-masing

Bulan bergeser ke barat

Angin Juli menggumpal di paru-paru

Dan kita hanya duduk berpura tak tahu

Bahwa malam menguapkan embun di dada-mu

 

Lalu tertutuplah halaman senja sore itu

Hati koyak oleh pecahan-pecahan rindu

Di mana kita yang berkaca-kaca

Lalu kita sama-sama diam

Menikmati sisa hari

Yang sebentar lagi dipotong jarak

Kesepian kita yang meracau sendiri.

 

Kadang kita berdiam diri

Menikmati nyeri sendiri-sendiri.

Begitu sibuk kita merancang hari depan

Sedang hari ini habis kita dicincang waktu yang kelam.

 

Kubaca juga aku:

Hidup memang seperti bermain layang-layang

Tak dapat kita baca cuaca

Yang mungkin akan menyesatkan kita

Ke ranting-ranting tanpa nama.

 

Maka pergilah saudaraku

Untuk meloloskan pikiranmu

Dari cekalan bayang-bayang di hatimu

Habiskan botol-botol itu

dan pecahkan

Ikat kencang tali sepatu

Dan melanconglah ke mana kau mau.

Jogja 2007

 

Barangkali Rindu

 

Barangkali rindu adalah sesuatu

Yang kita sebut masa lalu.

 

Seperti kita yang selalu curiga

Pada sepasang mata

Yang menyelidik dari jendela masa silam

Dan sama-sama kita terperangkap di dalam kamar

Dengan secangkir teh hambar.

 

Tiba-tiba dingin menggigilkan ingatan

Ketika musim menanggalkan bau hangus matahari.

Udara seperti mengirim kabar kematian

Dan suara kendaraan yang tiba-tiba menjauh di telinga.

Sanggar Suto, 2007

 

Menyeberangi Bukit-bukit Puisi di Bawah Gerimis

 

Menyeberangi bukit-bukit tua

Di bawah gerimis

Adalah mengenang kesepian demi kesepian

Yang belum kita bicarakan satu sama lain

Belum pula kita bungkus dengan

Sekepal nasi kucing atau seteguk teh anget,

Mungkin kopi yang hampir dingin.

 

Kita sama-sama bingung

Sementara hari mulai pucat

Mendung menggantung, angin mendesing

Tiba-tiba hujan menyerbu bagai ribuan peluru

Yang mengenai mantel perjalananku.

 

Di tengah perjalanan

Aku bagai dikepung ribuan pertanyaan

Tentang kata-kata yang menjelma mantra

Kupu-kupu yang menjelma rajawali

Juga langit yang tiba-tiba runtuh ke mata kita.

 

Menyeberangi bukit-bukit tua

Di bawah gerimis

Adalah menyeberangi bukit-bukit puisi

Seperti katamu,

Menyeberangi gerimis

Seperti sinyal-sinyal putus

Di dalam dada kita yang hampir mampus.

Tapi penamu terus saja ceriwis

Menyeberangi kesepian demi kesepian.

Sanggar Suto, 2007

 

Pesan Kakek Untuk Cucunya

 

Tubuh adalah seumpama kulit gabah

Yang menutupi isi di dalamnya

Jika kau ingin mengetahui kandungannya

Kau harus mengupas kulitnya.

Semisal kau cucuku,

Kau harus telanjang untuk mengetahui isi tubuhmu

Entah itu baik atau buruknya.

 

Cucuku, kulit atau isinya

Sudah tentu sama-sama ada manfaatnya.

Tapi tentu saja mempunyai kadar yang berbeda-beda.

Kau harus mengenal itu cucuku

Agar kau mengenal kemampuan dalam dirimu.

 

Cucuku, kulit tak selamanya mampu menahan

Puluhan musim yang mematok-matok paru-paru dan jantungmu.

Lambat laun tubuhmu tak akan mampu menjagal jarum jam

Yang akan menceraikan ruh dari tubuhmu.

Kau harus ingat itu cucuku.

 

Cucuku, tubuh hanyalah alat,

Yang menggerakkan adalah ruh.

Ruh akan abadi, sedang tubuh akan hancur

Kelak, ruh-lah yang akan mempertanggungjawabkan

Segala perbuatan semasa hidupmu.

 

Cecuku, hidup di dunia ini seperti mimpi

Jangan terkejut jika sekali waktu

Kau dibangunkan oleh maut.

Sanggar Suto, 30 Mei 2007

 

Aku Menyerumu Darma Ayu

 

Akan tetapi kelak nanti Allah melimpahkan

RakhmatNya yang berlimpah

Darma Ayu kembali makmur,

Tak ada suatu hambatan,

Tandanya,

Jika ada ular menyeberangi Kali Cimanuk

Semur kejayaan mengalir deras,

Lampu menyala tanpa minyak,

Semua kembali hidup makmur,

Manunggal dengan prajurit,

Membantu penguasa,

Hidup aman dan tentram,

Semua kembali makmur,

Seluruh negara hidup makmur.[1]

 

Malam mendesak pelan

Jarum jam memenggal-menggal sepi dalam dada

Di luar, angin merapat pada pohonan

Dan rumput yang berembun

Terasa hari seperti menghirup racun

Sementara malam menawarkan jejak pendapat

Tentang kota yang dibungkam masa depannya.

 

Pikiranku mengembara,

Menapaki kampung dan sawah-sawah,

Dan kulihat saudara-saudaraku berlari dalam lumpur,

Melewati petak-petak sawah

Seperti selembaran catatan sekolah yang lusuh

Yang dilindas mesin-mesin waktu.

 

Aku menyerumu, Wiralodra

Di dalam sunyi yang pengap ini

Sukmaku mengembara di jalan-jalan

Mencari-cari Nyai Endang Darma Ayu

Dan pada setiap riak Cimanuk aku panggil namamu.

Namun, di tengah jalan kembaraku

Aku disekap segerombolan perampok

Tak lain adalah prajuritmu sendiri.

Aku coba menghindari nasib,

Kembali memburu wangi Nyai Endang Darma Ayu

Berbekal luka golok di dadaku

Yang semakin malam racunnya menjalari tidurku.

 

Wiralodra, setelah sampai di sebuah desa

Aku mencium bau minyak dari nafas mereka

Kemudian matahari membakar ingatan dan pikiran mereka.

Mereka disekap keadaan

Kuping mereka disumpal kapas

Mulut mereka disumbat bangkai.

 

Hidup macam apa ini, Wirolodra?

Hidup di tengah-tengah omong kosong

Sungai Cimanuk sudah lama kering

Berganti keringat yang diperas dari kebodohan mereka

Maka, sejak saat itu tak ada ular

Yang menyeberangi sungai Cimanuk

Orang-orang saling curiga

Perempuan lupa rumahnya

Suami lupa istrinya

Anak-anak lupa orangtuanya

Orang tua lupa anaknya

Dan pemimpin lupa rakyatnya.

 

Wiralodra, aku menyerumu datang

Ke tanahmu yang hampir hilang.

Akan kukawin sukma Nyai Endang Darma Ayu

Kupinang setiap jerit kesakitan mereka

Agar mereka dibangunkan dari tidur panjang

Dan diangkat derajat mereka.

Sanggar Suto, 2007

 

Warna Senja di Pipimu

 

Warna senja di pipimu

Mungkin sebentar lagi akan hilang

Dari pandanganku.

 

Karena barangkali mengenalmu

Seperti mimpi semalam

Beruntung aku dibangunkan jam weker

Beruntung air liurku tak sampai jatuh ke sprei.

 

Aku sadar, warna merah di mataku

Seperti warna senja di pipimu.

Aku sadar, kesalahan terbesar setelah rindu

Adalah mencintaimu.

 Sanggar Suto, 2007

 

Hijab Khafi

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Kau pandang gugur daun yang direbahkan angin.  Dengan pelan-pelan berucap pada bumi. Kemudian cuaca mengantarkan rencana musim berikutnya. Dan matahari pun segera berkemas mengawini bulan. Sementara kita sibuk mengemasi isyarat. Bumi masih sama berucap lewat tumbuhan: tempat kita mengunyah dan menelannya kemudian membuangnya kembali ke tanah.

 

Pada debur gelombang yang mirip dengkur pengantin usai malam pertama, kita pun pasang pada suasana. Ah, kitakah itu yang sibuk mengkhianati kata-kata atau kata-kata cara berbohong yang sempurna?

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Lalu kita sibuk membenarkan alarm. Membenahi malam yang sobek oleh hujan. Di sini kita pernah bersaksi tentang luka tentang kata-kata yang cerewet di genting rumah. kemudian puisi setengah masak kita kunyah seperti kau batalkan puasamu pada sepotong hari. Dan segenap ludah isyarat yang kita hisap kembali.

 

Kau bicarakan maut. Sebagaimana kebijakan dan kebajikan yang kau teriak-teriakkan. Sebagaimana kau alamatkan kuburmu pada sebilah sajak yang akan membunuhmu.

 

Kitalah lelucon kata-kata. Puisi yang tak pernah kenal muasalnya. Berputar dan terus berputar seperti bumi dan galaksi. Seperti saat orang terdahulu memberitakannya. Nyatanya, telinga, mata, hidung, mulut kita masih sama. Nyatanya sepeti kenyataannya.

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Mata kita yang palsu menerjemahkan hidup. Sebab hati telah ingkar dari rahimnya. Sebelum tangis pertama meledak di telinga ibu mereka.

 

Kitakah yang sibuk mengartikan isyarat? Kata dan makna yang kita garitkan di dada telah hilang. Sebagaimana tanah yang telah melahirkan kita lewat lorong para ibu. Seperti kata-katanya yang dibahasakan tumbuhan.

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Apakah yang sebenarnya membuat ke-ber-ada-an? Masih adakah ke-ber-ada-an setelah kita tiada? Kitalah saksi pertama dari kehidupan. Kitalah saksi dari keberadaan; yang tumbuh lalu menguncup, setelah kuncup lalu mekar, setelah mekar lalu gugur, setelah gugur dan menguncup lagi, mekar lagi, gugur lagi, dan seperti hari-hari yang sebenarnya membuat kita terpencil dari kenyataan.

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Kemanakah hilangnya hari kemarin? Ketika pertama matahari memecah jendela matamu yang masih lekat dengan sisa-sisa mimpi semalam – kemanakah ruh kita mengembara? Ketika kita pun mengabur pada batas ruang dan waktu.

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Isyarat apa yang kau siratkan sedang kau sendiri tak kenal isyarat yang diberitakan jantung: menghiruip dan mengeluarkannya lagi. Berputar seperti bumi dan galaksi. Seperti kau putar tasbihmu.

 

Kau rasakan udara keluar-masuk dari tubuhmu. Meninggalkan jejak kembaramu. Kelak kau merasakannya, saat tulangmu mulai bungkuk karena banyak menampung kisah yang basah oleh hujan kemarin dengan segenap kepulangan cahaya ke barat. Dan mimpimu yang mulai pasang, ditarik ombak ke tengah laut yang fana.

 

Kesendirianmu di atas perahu puisi, ditemani cahaya alit bulan yang tertutup awan, melengkapkan sunyi. Kau berharap ada perahu yang menyambangi gelombang kata-katamu. Tapi semua mengapung sempurna. Pada saat seperti itu, kau ingin tambatkan perahumu ke daratan. Pada saat seperti itu semua orang sibuk dengan layang-layang di bibir pantai.

 

Bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah setiap tujuh lapis tubuhmu

Bacalah setiap tujuh lapis hatimu.

 

Pernahkah kau menyakini suatu kebenaran yang nyatanya salah? Mungkinkah mata mengajarkan kebohongan? Hati yang kau garitkan dalam sajakmu dari mata yang merekam kepalsuan lain pada keterbatasan jarak yang mengecil di pupil mata kita. Lalu apa yang menguak segala kebohongan ini? Maka kau baca malam dan siang pada tebaran cahaya dan kumpulan gelap adalah kita bermukim di dalamnya. Menyerupai batu yang berlumut dirayapi hujan dan udara. Dan cuaca yang mangkir dari hati kita.

Sanggar Suto, 5 Februari 2007

 

Telaga Menjer

(sebuah catatan)

buat Mahwi Air Tawar, Muda Wijaya, dan Al-ghiffari

 

bau pinus merendah

mengantarkan rakit ke kaki bukit dewa-dewa

di sini, aku memandangmu jauh

dipotong jarak kesepianku yang dingin.

Gigil batu-batu, tempias air terjun

Memercik serupa debu-debu air

Yang berkilatan di rambut mimpiku.

 

Dan alangkah dungu kita

Menanti alamat kata

Yang dikabarkan air rumputan

Di kaki kita yang lekat akan kesilaman.

 

Kupu-kupu putih meninggi

Dikibaskan sayap angin

Kemudian merendah lagi

Menyerupai jam jantung kita

Mengertap sepanjang tanah-tanah merah

Tempat ketika kita setia

Membaca sehimpunan stanza

Yang bertebaran di telaga

Tempat mengalirkan bau tubuh kita

Yang kelak akan kita baca

Juga rindu yang terpencil dari kata-kata.

Dieng, 2007

 

 



[1] Prasasti Arya Wiralodra


Add a Comment